TALENTA ORGANIZER

Art Dealers & Management

Blog

Art Exhibition ISI isi 2014

Posted by talentaorganizer on January 30, 2014 at 10:00 AM


 

Isen-isen

Catatan: Suwarno Wisetrotomo

Kata isen-isen lazim digunakan dalam dunia batik atau sungging (hiasan). Isen-isen berasal dari kata “isi” (Jawa; Indonesia). Tetapi makna kata “isi” dalam bahasa Indonesia bisa berarti; 1) kandungan; 2) daya serap; 3) batang tubuh, bunyi, diktum; 4) inti, substansi (Eko Endarmoko, 2007). Karena itu sering kita dengar ungkapan “orang ini berisi” atau dalam bahasa Jawa “uwong iki mentes” (‘e’ diucapkan seperti dalam kata ‘sepi’;); keduanya bermakna “orang yang memiliki kecerdasan, ketajaman batin, dan kearifan”.

Dalam dunia seni batik (juga dalam dunia sungging), istilah isen-isen sangat penting karena memiliki banyak peran dalam keseluruhan motif batik. Isen-isen dari kata  “isi” berarti “isi yang banyak. Ukurannya kecil, jenisnya ada puluhan dan fungsinya ganda. Kadang-kadang isen-isen dimaksudkan untuk menghidupkan atau mempercantik motif-motif utama” (Oetari Siswomihardjo-Prawirohardjo, 2011).  Dalam bukunya, Pola Batik Klasik: Pesan Tersembunyi yang Dilupakan, Oetari juga mengatakan bahwa “Sering pula isen-isen  itu dilukis untuk mengisi bagian-bagian pola yang kosong” (p. 13). Isen-isen bertautan dengan cecek; keduanya berfungsi melengkapi motif utama. Bentuk isen-isen bisa bermacam-macam, misalnya isen-isen cecek yang berarti isian berupa titik-titik, kemudian ada bentuk sisik-melik, sawut, gringsing, galaran, rambutan, rawan, sirapan, atau cacah gori. Seni batik yang demikian rumit dan kompleks – teknik dan maknanya – terus tumbuh dan berkembang dan menjadi sumber inspirasi.

Pameran ini saya beri tajuk “Isen-isen”, karena bagi saya peristiwa ini, seperti pada dunia seni batik, memiliki makna berlapis. Makna pertama, saya membacanya dari aspek sikap para perupa yang terdiri atas lintas usia, lintas pengalaman, lintas selera, lintas komunitas, dan lintas estetik yang bersedia rame-rame berpameran bersama; dengan karya ukuran yang sama (35 x 35 cm). Peristiwa ini dapat dimaknai sebagai kehendak untuk mengisi kekosongan kesenjangan kekerabatan yang cenderung tereduksi, bahkan kadang-kadang berada dalam situasi krisis. Entah disebabkan oleh kesalahmengertian dalam percakapan atau tindakan, sering terjadi polarisasi, lingkaran-lingkaran, dan – sadar atau tidak –  saling memasang pagar. Akibatnya ada yang merasa di dalam (insider), dan ada yang di luar pagar (outsider). Ujungnya, praktik-guyub rukun dan gotong-royong hilang dari pertemanan. Untuk kondisi masyarakat, utamanya di Yogyakarta, itu kerugian sosial yang mahal. Karena di Yogya, selama ini, semua – yang wacana,  yang intelektual, yang artistik, yang guyonan, yang berpengaruh, yang dipengaruhi – bisa saling bertemu dan saling memberdayakan  (bukan mempedaya) tanpa ngasorake (tanpa merendahkan, apalagi mempermalukan pihak lain), dan merasa sugih tanpa bandha (merasa kaya tanpa harta; karena konsep kaya bisa berarti sugih kanca; kaya teman, dan itu berarti jaminan untuk bisa survive dalam hidup dan kehidupan).  Kerenggangan kekerabatan hanya karena salah paham, apalagi berujung pada hasrat saling menista, apalagi saling meniadakan, adalah kebiadaban yang tak pantas dibiarkan.   

Makna kedua, keguyuban ini nyata adanya karena masing-masing menempatkan diri dalam ruang dan lini yang setara (egaliter); tak ada bintang, tak ada yang superior, tak ada yang merasa paling kontemporer (sambil mengolok-olok yang modern), merasa paling modern (sembari tak paham dan sinis dengan yang kontemporer), tak ada yang kuno, tak ada yang modern, karena senyatanya istilah-istilah itu tak penting dan tak ada gunanya bagi kehidupan berkesenian bersama. Setiap pilihan harus dihormati, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh pihak lain.  Mereka, dengan tindakannya yang sederhana ini (berpameran bersama) memilih jalan tengah; tidak sok intelektual, juga tidak sok seniman, juga bukan karena rendah diri (minder). Inilah hidup dan berkesenian; saling menghidupkan dan saling menyenikan. Sebab tak ada gunanya berpintar-pintar dengan pengetahuan, dengan karya-karya yang canggih, tetapi miskin kekerabatan sosial, membatasi dirinya hanya untuk lingkarannya yang kecil, sambil merendahkan orang lain. Juga, semakin tak ada gunanya jika hanya merawat kerendahdirian (bukan kerendahhatian), merawat sikap minder, dan sama sekali tak memiliki kesanggupan untuk bercakap sekadar untuk membela dirinya atas tudingan pihak lain.

Makna ketiga, karya mereka – berjumlah lebih dari 250 karya dari 140 perupa – secara rupa dan bentuk berpotensi menjadi isen-isen; mengisi dinding atau ruang kosong para pencinta seni, mengisi kekosongan hati banyak orang dengan pengalaman seni rupa. Mereka bereksperimen melalui tindakan sederhana: pameran bersama, dengan (harus) berkarya dengan ukuran yang sama, dan saya menduga, mereka memiliki pengalaman yang berbeda. Memiliki teman adalah kekayaan dalam hidup.

Makna keempat, karya-karya 140 perupa ini saya lihat sebagai testing mentalitas setiap perupa dalam proses kreatif berkarya seni rupa. Yang biasa bekerja di bidang kecil, berpikir dan menimbang apakah karyanya dapat merebut mata dan hati para penontonnya. Yang biasa berkarya dengan bidang besar, ia tengah menaklukkan dirinya untuk menghadapi bidang kecil, tanpa kehilangan identitas yang selama ini melekat pada dirinya. Saya memetik kebahagiaan melalui peristiwa dan cara sederhana; melihat karya-karya dalam ukuran yang sama, digubah dengan cara dan selera masing-masing. Di dalam keriuhan itu, saya bertatapan dengan karya Soetopo, Kartika, Djoko Pekik, Subroto Sm, Aming Prayitno, Suwaji, Edi Sunaryo, I Gusti Nengah Nurata, Haris Purnomo, Ivan Sagita, Sarnadi Adam, Dyan Anggraeni, Ipong Purnomo Sidhi, Umbu LP Tangela, Anusapati, Nasirun, Budi Kustarto, Budi Ubrux, Sigit Santoso, Lucia Hartini, Laksmi Shitaresmi, Hedi Hariyanto, Noor Ibrahim, Toni Voluntero, dan lain-lainnya (silahkan simak biodata perupa). Mereka, dengan bahasa dan cara masing-masing, bergumul dengan kesenian, membangun jejaring, merajut kekerabatan, meraih panggung-panggung presentasi di berbagai tempat – nasional, regional, internasional – dengan pencapaian masing-masing.  Semoga kebahagiaan saya ini juga menjadi kebahagiaan para perupa. Apresiasi yang tinggi pantas kita berikan kepada Talenta Organizer yang dengan penuh dedikasi memfasilitasi peristiwa pameran dan disksusi-diskusi yang menyertainya.

Makna kelima, karya-karya berukuran sama ini – seperti mengingatkan para perupanya – meski saling berupaya merebut mata dan hati penontonnya, toh ‘mereka’ – karya-karya itu -  tetap santun di dinding atau di papan (voestuk) masing-masing,  tidak saling merendahkan, tak saling menelikung dan mencederai satu sama lain. Karya-karya itu sangat paham, dirinya memiliki ‘nilai diri’ setimbang dengan ‘harga diri senimannya’.  Di antara mereka, semestinya saling mengisi dan melengkapi.  

Seniman, Politikus, Masyarakat

Dunia politik memang gaduh. Karena jalan politik adalah jalan untuk menuju kekuasaan. Kita semakin sering menyaksikan kegaduhan itu hingga melampaui ambang toleransi. Akibatnya terbentuk persepsi bahwa politik itu diliputi keculasan, kotor, tipu daya, bahkan korup.   Politisi menunjukkan dirinya hanya sebagai si tukang ngomong – mereka ngomong bener atau salah, santun atau tuna etika, nalar atau ngawur – semakin tak jelas dan campur aduk. Jika politik itu jalan menuju kekuasaan, dan kekuasaan itu diabdikan untuk rakyat, maka itulah yang ternyata terus-menerus ditagih oleh rakyat, dan sesungguhnya memang cenderung diingkari. Dengan kata lain, politik adalah permainan untuk dirinya sendiri, atau untuk kroni-kroninya. Masyarakat menjadi obyek yang terus-menerus dirugikan.

Meski tetap masih banyak seniman yang terus bekerja, berprestasi, dengan capaian reputasi yang meyakinkan, namun rupa-rupanya sebagian seniman lainnya terseret arus cara dan gaya politisi yang banyak ngomong untuk kepentingan dirinya, atau lingkarannya. Banyak ngomong, sekaligus tak menunjukkan bukti-bukti karya yang “berguna’ bagi orang lain. Percakapan dan kegiatan seniman terlihat riuh dan gaduh, tetapi tak meninggalkan jejak apapun bagi masyarakat, bahkan juga bagi sesama seniman. Banyak seniman berpuas diri dengan posisi ‘asik sendiri’, sembari ngasorake (merendahkan) pihak lain. Sikap-sikap semacam ini sesungguhnya hanya memperteguh bahwa dirinya adalah pribadi yang keropos.

Akan tetapi membayangkan bahwa guyub rukun itu sama dengan selalu sepakat tanpa perbedaan, tanpa tegangan, tanpa perdebatan, dan tanpa keragaman, adalah naif. Guyub rukun justru bertolak dari kesadaran perbedaan dan keragaman itu. Tetap terjadi perdebatan, tetap terjadi tegangan, namun tetap menjaga kekerabatan, kehormatan, dan kesadaran untuk saling membutuhkan. Bukan mutlak-mutlakan yang berujung pada saling menegasi, lalu ngedumel; kau bukan kelompokku, dan aku bukan kelompokmu. Bahkan firman Allah SWT, “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku” (Al Quran; 109: 6, Lakum dinnukum wa liya diin) bukan dimaksudkan untuk saling meniadakan, apalagi dengan kekerasan.  Akan tetapi firman itu sebagai penegas, bahwa untuk urusan agama – yang sesungguhnya urusan setiap pribadi dengan Allah, dengan Tuhan Yang Maha Esa – adalah menempuh jalan sesuai keimanan masing-masing, tanpa harus saling menista (apalagi sedemikian bersemangat saling mengirim ke neraka). 

Seniman atau para perupa mestinya menjadi pionir dan motor penggerak untuk memberikan contoh pada sikap dan perilaku guyub rukun dengan indah; berbeda-beda tetapi sesungguhnya saling membutuhkan dan melengkapi.  Seniman hadir dan bersaksi sebagai pencatat serta perekam zaman. Karya seni hadir untuk memprovokasi kesadaran orang lain (penonton).

Peristiwa kali ini bukan didorong oleh ikatan ideologi yang sama, atau agenda-agenda kritikal lainnya, atau sebagai semacam gerakan pemikiran. Bukan! Bukan karena itu. Peristiwa ini diselenggarakan untuk atas nama kebersamaan, atas nama (sekali lagi) guyub-rukun.  

35 Hingga Tak Terhingga

Sekali lagi, saya gembira menyaksikan peristiwa pameran “Isen-isen” ini. Peristiwa seni rupa yang penuh isi; sebagian dari mereka adalah alumni ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa, sebagian kecil lainnya dari sekolah atau perguruan tinggi lainnya. Pengalaman mereka dalam berproses kesenian beragam. Ada yang tangguh sebagai ‘petarung’, naik dan masuk ke berbagai arena ‘pertarungan’ (pemikiran maupun kekuatan karya); ada yang terus bergumul dengan mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk, ekspresi, presentasi; ada yang terus menjelajahi pemikiran, bentuk karya, dan kerjasama; ada yang meyakini dengan teguh cara, bentuk, ekspresi yang dipilihnya; dan sebagainya.

Ukuran tiga puluh lima centimeter (35 cm) ditentukan juga bukan ada dasar filosofinya, kecuali bahwa ukuran itu sedang-sedang saja, dan mudah dikemas, serta mudah-mudahan mudah ditata diruang pamer.

Bertolak dari kehendak sederhana, mengkreasi karya dengan format terbatas, pameran ini dapat bermakna tak terhingga, setidaknya bagi para seniman peserta, maupun bagi seniman yang tidak menjadi bagian, juga bagi khalayak ramai. Bagi seniman peserta, inilah – menurut saya – ketika hasrat individu ditekan dan dikelola menjadi energi bersama. Bagi seniman yang tidak menjadi bagian pameran ini, silahkan cemburu dan kemudian berempati, lalu terbangun dari alpa, bahwa membagi ruang personal dengan ruang sosial itu indah. Bagi khalayak penonton tentu akan mendapatkan pengalaman bermacam-macam; seperti variasi bentuk, jenis, corak karya seni rupa; kemudian menjumpai kekerabatan yang indah. Tentu tak sekedar mendapatkan keindahan, tetapi juga memperolah kesadaran kritis. Tengok dan cernati misalnya dua karya M. Agus Burhan, “Menolak Kuasa, Menolak Lupa” (drawing di atas kertas, 2014). Pada karya pertama dapat kita temukan serangkaian teks (tulisan) di sebagian tubuh sang tokoh berupa kata-kata seperti; gugat, gagap, menolak luka, menolak tega, menolak kuasa, menolak tiada, galau menembus diam, menyesal atau kecewa, menggugat yang diam membisu, menolak raja tega, raja lupa. Kemudian pada karya yang lain, terdapat teks yang tersebar, juga di sosok dalam karya itu; bayang-bayang kontemporer, gagap wacana aduh, kuasa modal, raja diam, aduh kolaborasi, dan jalan seni, jalan hidup.  Teks yang tersebar itu saya kira gumam-gumam (juga gugatan) Agus Burhan, tetapi juga mewakili gumam dan gugatan saya atau kita semua terhadap carut-marut praktik dan pemikiran (baik praktik dan pemikiran kesenian, politik, ekonomi, sosial, atau kebudayaan) di negeri kita tercinta ini, dalam skala mikro maupun makro.

Ketakterhinggan lainnya dari peristiwa ini adalah, tumbuhnya kemungkinan yang bisa diperluas dan dipertajam, serta tumbuhnya kesadaran, bahwa sebuah pameran melibatkan kesatuan antara hasrat, kepatuhan pada janji dan permainan, serta penghormatan atau penghargaan pada peran-peran. Meminjam istilah seorang ahli musik Jawa, Martopangrawit, bahwa adanya dua bagian fungsi utama dalam gamelan, yaitu pamangku (yang mendukung atau mengangkat) dan pamurba (yang bertanggungjawab atau mengawasi) (Savitri Scherer, 2012; xiii). Setiap yang terlibat dalam pameran “Isen-isen” ini memiliki peran pamangku dan pamurba sekaligus dalam kapasitas masing-masing. Mari kita “isi” hidup dan kehidupan ini dengan segenap ucapan dan tindakan yang “berisi”. Jika di dalam semesta raya ini diri kita luput menjadi “motif utama”, dan menjadi “isen-isen”, tentu menjadi “isen-isen” yang diharuskan kehadirannya oleh sang “motif utama”, karena keduanya saling mengisi dan memperindah kehidupan.

Kesadaran semacam itu, tentu saja tak hanya  terkait dalam lingkaran sempit dunia kesenian, khususnya seni rupa. Akan tetapi harus menjadi kesadaran yang meluas, yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan klasik di sekitar hubungan seniman dengan masyarakat dan negara, fungsi kesenian bagi kehidupan/masyarakat, termasuk hubungan kesenian dengan religiositas.  Sekali lagi, mari memerindah kehidupan dan semesta raya ini.      

 

(Suwarno Wisetrotomo /Dosen di Fakultas Seni Rupa & Pascasarjana ISI Yogyakarta / Kritikus Seni Rupa)

 

Referensi:

Scherer, Savitri, Keselarasan & Kejanggalan, Pemikiran-pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX, Jakarta: Komunitas Bambu, 2012.

Siswomihardjo-Prawirohardjo, Oetari, Pola Batik Klasik: Pesan Tersembunyi yang Dilupakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.