TALENTA ORGANIZER

Art Dealers & Management

On Going Exhibition

Energi Seni

Pameran seni rupa dengan Tajuk “Energi Seni” yang diikuti oleh 18 seniman, yang akan akan menampilkan karya terbaru dan terbaik mereka di ;


Plaza Indonesia (Function Hall lantai 2) 

11 - 19 Agustus 2018 (10.00-22.00)

MH Thamrin,Jakarta



Afdhal, Agus Kama Loedin, Andrik Musfalri, Bambang Heras, Butet Kartaredjasa, Djoko Pekik Erianto, Erica, Gunawan Bonaventura, Heri Dono, Indra Dodi,  MA Roziq, Masagoeng, Ong Hari Wahyu, Putu Sutawijaya, Tempa, Umbu Tanggela, Rato Tanggela

Catatan Kuratorial: Suwarno Wisetrotomo

Menonton, mendengar, mempercakapkan, dan mengalami (berkarya) seni sama dengan terlibat dalam energi paling dasar manusia, yakni “rasa” yang terkait dengan ketajaman serta kepekaan (sensibilitas, sensitivitas). Seni yang dimaksudkan dalam paparan ini adalah karya seni (karya-karya dua dan tiga dimanesional, karya-karya sonorik/bunyi, gerak, suara, dan lainnya), mau pun peristiwa seni (pameran seni rupa, pertunjukan, pergelaran, atau sejenis presentasi lainnya). Rasa yang dilengkapi oleh pengalaman dan pengetahuan, akan memengaruhi selera. Konfigurasi antara rasa, pengalaman, dan pengetahuan, menjadi daya dorong untuk memunculkan energi; baik energi menikmati seni, mau pun energi mencipta seni.


Kata ‘energi’ juga bermakna daya, kekuatan, gairah, vitalitas, elan, spirit, atau gairah. Ia, seperti sudah tersirat pada paragraf awal, melibatkan yang fisik dan non-fisik. Keterlibatan fisik terkait dengan kekuatan yang bisa diukur dan terukur, seperti tercepat, terberat, terbanyak, tertinggi, terdalam, terjauh, dan sejenisnya. Pencapaian “ter” menjadi tujuan yang terus-menerus diperjuangkan, seperti yang ditunjukan oleh dunia olah raga. Pada titik tertentu, upaya mencapai posisi “ter” selalu ada batasnya, terkait kemampuan fisik, baik yang alamiah mau pun yang non-alamiah (oleh sebab lainnya).

Kemudian yang non-fisik, seringkali tampak tak terbatas, tanpa tepi, dan terasa liar. Semakin melampaui batas, semakin menemukan daya (sebutlah semacam ide-ide, terkait isi, bentuk, dan fungsi) yang tak terduga. Berpikir dan berkarya seni tak terkait dengan usia dan raga. Karya-karya “terbaik” – dalam berbagai pengertian atau pun kriteria – bisa diciptakan oleh mereka (seniman) yang muda mau pun tua usianya; bisa yang raganya lemah mau pun kuat, dan sebagainya.


Pencapaian “ter” pada keduanya – baik yang fisik mau pun yang non-fisik – memerlukan intensitas pergulatan, disiplin, sportivitas, dan laku yang istiqomah (konsisten). Pada titik tertentu dapat dipahami sebagai laku pertapaan (asketik) untuk menggembleng diri agar diri dan karya-karyanya memiliki kualitas memadai. Jalan kanuragan dan jalan seni, sungguh memerlukan disiplin raga, mental, dan spiritual.


Demikianlah proses kreatif berpikir dan berkarya seni yang melibatkan seluruh daya; daya nalar, daya renung, dan daya artistik. Berkesenian, tak bisa tidak, harus mengerahkan seluruh daya, agar produk karya seni memiliki dua energi yang menyatu, yakni daya pukau dan sekaligus daya ganggu. Pencapaian semacam ini, sekali lagi, hanya mungkin terjadi jika seniman bertumpu pada nalar, kepekaan jiwa, kepiawaian artistik, dan keberpihakan sebagai tujuan utama. Keempat unsur itu dimiliki oleh seorang seniman bukan secara kebetulan, juga bukan jatuh dari langit, melainkan buah dari upaya yang tak kenal menyerah.


Karya seni yang memesona secara visual, dan mengganggu secara isi dan pesannya, dapat dikatakan sebagai karya yang memancarkan energi positif bagi penontonnya. Energi positif ini penting, karena seni memang menjadi medium yang sangat efektif untuk membangun pengertian antar manusia. Seni semestinya berada di atas banyak persoalan; misalnya isu-isu terkait suku, agama, ras/etnik, ideologi, dan politik, yang pada ujungnya akan menemukan “ruang pertemuan dan ruang dialog” melalui karya seni.


Harapan besar dan mendasar terhadap ‘peranan seni/seni rupa’ juga disampaikan Presiden Joko Widodo pada kuliah umum di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sabtu, 23 Juni 2018, seperti dikutip Harian Kompas berikut ini, “Jadikan karya-karya seni sebagai sumber inspirasi pemersatu bangsa, pemersatu suku-suku yang ada dari bangsa ini. Jadikan seni sebagai sumber energi peradaban bangsa”.[1] Dua kata kunci penting adalah ‘seni sebagai sumber inspirasi pemersatu bangsa’ dan ‘seni sebagai sumber energi peradaban bangsa’.


Seni sebagai pemersatu bangsa hanya mungkin terjadi jika tumbuh penghargaan yang tinggi pada keberagaman daya cipta seluruh anak bangsa. Seni sebagai sumber peradaban bangsa bisa terjadi jika tumbuh perilaku mendialogkan seni dengan penuh argumentasi dan penghargaan kepada perbedaan makna serta selera terhadap karya seni. Karena memang, tak ada makna seni yang tunggal dan absolut. Berkarya dan memahami karya seni, pada ujungnya adalah menumbuhkan energi berdemokrasi dengan penuh etika.


Energi Keindonesiaan

Tema besar dalam kehidupan berbangsa-bernegara hari ini dan hari-hari mendatang adalah mengokohkan keindonesiaan; penghayatan jiwa raga menjadi Indonesia, dengan segenap kesadaran tentang pluralitasnya. Karena keberagaman – dalam konteks Indonesia – merupakan keniscayaan yang tak terelakkan. Suatu realitas terberi (given) yang menyimpan potensi sebagai modal sosial dan kultural sekaligus. Realitas semacam itu dapat dikapitalisasi menjadi nilai unggulan negara dan bangsa Indonesia, melalui sejumlah cara pandang kritis dan olah kreasi yang mengerahkan daya kreativitas.


Keindonesiaan dapat dipahamai dalam bingkai keberagaman. Praktik seni rupa dan desain tradisional, misalnya; seni batik, tenun, sulam, songket, bordir, anyaman, ukiran, termasuk seni arsitektur, menunjukkan ragam gaya, ragam hias, ragam bentuk yang amat kaya. Karya-karya itu sungguh merupakan sumber inspirasi dari setiap generasi dengan caranya yang beragam. Tak terkecuali praktik seni rupa kontemporer yang memiliki ruang tanpa batas untuk “memanfaatkan” berbagai bentuk karya seni (rupa) tradisional. Para seniman/perupa Indonesia – yang tradisional, modern, dan kontemporer – melalui karya-karyanya, menunjukkan rekam jejak praktik seni dalam bingkai keberagaman itu.


Peristiwa Pameran Seni Rupa berlangsung di Plaza Indonesia, bertajuk ENERGI SENI dihasratkan untuk menumbuhkan pemahaman seperti itu.[2] Pameran kali ini tetap terhubung, dan merupakan bagian penting dari proses “menjadi Indonesia”. Pameran ini melibatkan perupa lintas generasi (tentu saja juga lintas usia), antara lain; Djokopekik (lahir 1938), Umbu Tangela (lahir 1956), Ong Hary Wahyu (lahir 1958), Heri Dono (lahir 1960), Butet Kartaredjasa (lahir 1961), Bonaventura Gunawan (lahir 1964), Bambang Heras (lahir 1966), Putu Sutawijaya (lahir 1970), Erica Hestu Wahyuni (lahir 1971), MA Roziq (lahir 1978), Erianto (lahir 1983), hingga generasi perupa muda seperti Putut Utama (lahir 1991 dan Rara Kuastra (lahir 1992). Mereka mengolah sekaligus menghadirkan energi seni melalui karya-karyanya. Mereka menularkan energi kreatif kepada orang lain, untuk terlibat aktif dalam mengapresiasi dan memaknai karya seni. Bagaimana energi itu diolah, atau seperti apa energi yang terpancar dari suatu karya seni?


Lintas generasi dan usia dapat digunakan untuk memahami problematika, semangat, pengalaman, dan “bahasa” setiap penggal waktu. Karya-karya mereka dapat pula digunakan untuk memahami perkara “selera intelektual” mau pun “selera estetik dan artistik” setiap era. Seorang Djokopekik mengalami kehidupan sosial-politik-kekuasaan yang penuh tegangan, dan melalui lukisan-lukisannya berupaya menyuarakan kegetiran hidup secara kritis. Tentu berbeda dengan Ong Hary Wahyu, yang meskipun tetap menyuarakan perkara-perkara masyarakat-sosial-politik secara kritis, namun pendekatan visualisasinya lebih populer. Ong memadukan teknik olah digital dengan teknik seni lukis; memadukan anasir-anasir visual yang lama dengan yang baru; menghasilkan tata rupa yang menyuarakan sesuatu yang paradoks mau pun ironi-ironi. Berbeda lagi dengan generasi seperti Erianto, Putut Utama, atau Rara Kuastra yang memahami problematika masyarakat-sosial-politik dengan lebih ‘santai’, yang memengaruhi bahasa ekspresi karya-karyanya; lebih populer, tampak ‘remeh temeh’, tetapi nyaman dinikmati. Begitulah cara setiap generasi mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kesemuanya memancarkan energi yang berbeda-beda.


Melalui medium karya seni rupa, diseminasi perkara energi seni, menemukan ruangnya yang menarik dan mengundang beragam kemungkinan, khususnya di area pemaknaan seni. Pameran ini diharapkan dapat menghadirkan beragam karya seni rupa yang memancarkan ‘pesona seni’, ‘imaji seni’, ‘mengundang pemaknaan yang beragam’, ‘menumbuhkan semangat dan daya hidup’, serta ‘menumbuhkan kesadaran terhadap kebanggaan, kebersamaan, dan kemanusiaan melalui seni’. Aspek-aspek itulah yang dimaksudkan sebagai “energi seni”. Melalui berbagai bentuk karya seni, siapapun kita, akan tersentuh dan tumbuh daya hidup kita dengan lebih manusiawi.


Catatan:

[1] Lihat Harian Kompas, Minggu, 24 Juni 2018, hlm. 11.

[2] Pameran pada Agustus 2018 ini merupakan penyelenggaraan kedua oleh Talenta Organizer, setelah pada Agustus tahun 2017 lalu, di tempat yang sama, dengan sebagian seniman berbeda, menyelenggarakan pameran dengan tajuk kurasi MENJADI INDONESIA.







 

Millennial Dopamine Art Corner 
Plaza Indonesia Extension, 4 th floor
By Tempa & Rato Tanggela
organized by Talenta Organizer

Talenta Organizer Art Corner
Millenium Hotel Lobby, Jakarta