TALENTA ORGANIZER

Art Dealers & Management

On Going Exhibition

Art Exhibition On Sculptures Plaza Indonesia
2-31 March 2021, Main Atrium-Fashion Corridors & Atrium level 4 Plaza Indonesia

*Patung Nan Fabulous*

Sebuah kota, utamanya kota besar tentu memiliki landmark. Ia adalah markah tanah, mercu tanda atau tengara. Dapat berupa bentukan alam natural seperti air terjun Niagara atau bikinan manusia seperti menara Eiffel di kota Paris. Umumnya berukuran besar alias gigantik, meski tidak selalu demikian sebagaimana Manneken Pis di Belgia, namun ia selalu menjadi penanda (tempat) unik, khas sekaligus berbeda. Dan hampir pasti bersifat ikonik.
Jakarta sungguh beruntung memiliki begitu banyak landmark. Tak terbilang aneka monumen, gedung dan patung tersebar di berbagai sudut kota. Soekarno; sang proklamator, presiden pertama yang juga pecinta seni tak boleh dilupakan. Karena jasa beliaulah Jakarta jadi punya Monas, patung Selamat Datang, Patung Dirgantara dan seterusnya hingga Gelora Bung Karno Senayan. Beberapa hari terakhir ini kita mendengar kabar "temuan" relief Sarinah.

Pada bulan maret 2021 Plaza Indonesia (PI) yang  merayakan ulangtahun *"31 Years & Fabulous"* mengadakan sebuah acara besar, yakni pameran patung yang terbilang besar. Sebelumnya PI telah memiliki patung besar nan ikonik karya pematung besar Indonesia, Nyoman Nuarta.

Sengaja saya menyebut kata "besar" berkali-kali karena untuk hal-ikhwal patung berlaku adagium "size does matter". Bahkan secara berkelakar, "Apa pun bentuk patungnya asal ia dibesarkan akan menjadi istimewa bahkan boleh berharap ketika diletakkan di tempat yang pas, ia segera menjadi ikon serta-merta sebuah landmark baru".

Bersyukurlah kita, di pameran patung kontemporer yang ditata-kelolai oleh Talenta Organizer ini sama sekali bukan menampilkan yang "apa pun" apalagi sekadarnya saja melainkan memilih patung terbaik karya seniman terpilih. 21 nama tersebut adalah; Putu Sutawijaya, I Nyoman "Ateng" Adiana, Erica Hestu Wahyuni, Erianto, Tri Suharyanto, Syahrizal Koto, Arlan Kamil, Sumbul Pranov, Komroden Haro, Akmal Jaya, Ari Sutaryo, Rudi Hendriatno, Didi Kasi, Beni Kampai, Rinaldi, Andik Musfahri, Ahmad Santoso, Amboro Liring, Deddy PAW, Abdi Setiawan dan Jhoni Waldi.

Dari deretan nama tersebut kita dapat menengarai jejak artistik mereka. *Putu Sutawijaya*, biasa dipanggil Liong adalah salah satu pelukis terbaik Indonesia saat ini. Ia juga banyak menciptakan karya tiga dimensi. Kali ini karyanya berupa serial "Garudea". Saya lebih suka menyebut karya ini sebagai instalasi patung. Karena memang kumpulan banyak patung yang diatur penempatannya. Menariknya ia (karya ini) dapat berbeda tampilannya ketika ditempatkan dengan cara tidak sama dengan atau tanpa penggantian/tambahan elemen lainnya. Sebuah karya yang luwes.

Tak kalah menariknya adalah seekor rusa berwarna jingga karya *I Nyoman "Ateng" Adiana*. Juga kerbau bertotol hijau karya *Tri Suharyanto*. Serta kuda putih bertempelan batu karya *Komroden Haro*. Ketiga binatang berkaki empat biasa saja telah digubah sedemikian rupa menjadi "species" baru yang memaksa saya "speechless"

Nama berikut ini membuat karya yang iramanya tak jauh beda dengan style lukisan yang selama ini menjadi ciri khas masing-masing. *Erica* mematungkan kucing masih dengan gaya kekanakannya. *Erianto* memindahkan karya kanvasnya ke "Package for the Museum" dalam versi tiga dimensi. Pun *Deddy PAW* masih jatuh cinta pada buah apel.

Pada empat karya ini, meski figurnya berbeda saya menemukan kesamaan cukup signifikan; pewarnaan yang kuat dan cenderung memakai warna elementer. *Beni Kampai* dengan tanda cinta merah dipuncaki sedikit area rerumputan hijau dan sejumlah makhluk hidup berwarna putih. *Sumbul Pranov* "Big and Soft" lelaki gemuk putih yang terjungkal entah karena apa yang berwarna merah. *Arlan Kamil* menampilkan perempuan cantik berdwiwarna; merah dan biru. *Amboro Liring* dengan Spiderman makan nasi bungkus. Kita tahu kostum superhero ini memang colourfull. Sebetulnya jika rusa jingga karya Ateng juga dihitung, setidaknya ada lima karya yang diwarnai ceria.

Sementara ada kesetiaan pada bahan/material di karya patung-patung ini. *Jhoni Waldi* dengan kayu jatinya. *Didi Kasi* dan karya berbungkus kertas kardusnya. *Akmal Jaya* dengan pahatan batunya.

Sesungguhnya bukan soalan besar tentang dengan bahan apa, bagaimana bentuknya dan warna apa yang engkau torehkan pada patungmu. Hal terpenting dalam seni patung adalah seberapa kuat nilai dan gagasan yang engkau tawarkan. Seni Patung itu masuk dalam ranah Seni Murni. Fine Art. Maka menjadi baik adalah yang utama.

Kebaikan itu relatif, namun dalam kesenian ia dapat diukur. Dan hasil pengukuran saya mengatakan, Pilihan peserta pameran ini bagus. Terlebih dengan diajaknya pematung teruji dan terpuji; *Syahrizal Koto, Abdi Setiawan, Rudi Hendriatno, Ari Sutaryo, Rinaldi, Andrik Musfahri* dan *Ahmad Santoso*.

Sebelum menutup tulisan ini, ijinkanlah saya menambahkan betapa dalam situasi covid, semua pihak pasti terdampak, tak tercecuali seniman. Acara yang diselenggarakan di Paza Indonesia --mall pendukung perkembangan Seni Rupa Indonesia-- memberi bukti bahwa seni tak terabaikan.

Nah sebagaimana disebut di muka; saya membayangkan seandainya karya-karya istimewa ini, jika salah satunya atau beberapa dipilih (kemudian dibuat ulang dengan skala besar jika perlu) untuk dijadikan landmark baru, ditempatkan di banyak titik, tidak harus di Jakarta, niscaya akan sangat menarik sekaligus penting. Demi sebuah "fabulousness", betapa menakjubkannya kebudayaan Indonesia -- menunjukkan kehebatan serta kekayaan Indonesia Maju.

Yuswantoro Adi
Penulis adalah Pelukis tinggal di Yogyakarta 

Pop - Up Gallery
Plaza Indonesia - Jakarta

The lunar session
Plaza indonesia & Talentaorganizer  pop up gallery
level 2 Plaza Indonesia (next to Gram Cafe & pancakes)

Erica Hestu wahyuni
Yogyakarta, Januari 1971
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta  1989
Surikov Art Institute, Moscow,2001-2004